Kamis, 21 Oktober 2021

Perekonomian Indonesia di tahun 2020

Pertumbuhan perekonomian Indonesia tahun 2020 | Triwulan l - lV











Pada triwulan I

Pada triwulan I tahun 2020 dunia diguncang pandemi COVID-19 yang memaksa berbagai negara mengurangi aktivitas ekonomi. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi semua negara kembali tertekan. Pertumbuhan beberapa negara mengalami kontraksi, dan sebagian lainnya masih tumbuh positif meskipun jauh dibawah pertumbuhan normal. Perekonomian Tiongkok berbalik terkontraksi hingga 6,8 persen. Jepang terkontraksi semakin dalam sebesar 3,4 persen. Sementara itu, Amerika Serikat masih tumbuh positif sebesar 0,3 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri tertekan menjadi 2,97 persen. 

Pertumbuhan ekonomi di sebagian besar wilayah tumbuh lebih lambat. Wilayah Bali Nusra, Kalimantan, serta Maluku Papua tumbuh di bawah pertumbuhan nasional. Seluruh komponen pengeluaran menunjukkan perlambatan yang cukup signifikan. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat menjadi sebesar 2,8 persen. Kinerja ekspor dan impor juga menurun seiring terhambatnya aktivitas perdagangan antar negara. Impor terkontraksi 2,2 persen sementara ekspor tumbuh 0,2 persen. Sektor utama Indonesia tumbuh melambat namun sektor jasa tumbuh lebih cepat. Sektor jasa kesehatan tumbuh hingga 10 persen pada triwulan berjalan. Kinerja tersebut terkait dengan penyebaran wabah COVID-19 yang mendorong permintaan jasa kesehatan. 

Tahun 2020 diperkirakan akan mejadi tahun yang berat terutama dari sisi perpajakan. Hingga akhir triwulan I tahun 2020, penerimaan perpajakan melambat 0,02 persen. Namun, secara keseluruhan realisasi pendapatan negara dan hibah meningkat hingga Rp376,0 triliun. Sementara itu, belanja negara juga meningkat menjadi Rp452,4 triliun didorong oleh belanja modal dan belanja sosial. Meskipun meningkat, namun komponen Transfer Ke Daerah dan Dana Desa mengalami penurunan yang terkendala proses pemenuhan persyaratan penyaluran TKDD. 

Dari sisi moneter, suku bunga acuan diturunkan secara bertahap dari 5,00 persen menjadi 4,50 persen sepanjang triwulan I tahun 2020. Kondisi pasar keuangan global yang tertekan ketidakpastian pandemi menyebabkan nilai tukar Rupiah melemah cukup dalam selama Februari hingga Maret. Namun, inflasi domestik tetap terkandali dan stabil pada kisaran 3±1 persen, meskipun inflasi harga bergejolak mencapai 6 persen. Sektor jasa keuangan cukup terkendali ditopang oleh kondisi permodalan dan likuiditas. 

Kinerja neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit disebabkan oleh turunnya surplus neraca transaksi modal dan finansial sejalan dengan ketidakpastian di pasar keuangan global. Sementara itu, defisit neraca transaksi berjalan turun didorong peningkatan neraca perdagangan barang yang lebih besar dari kenaikan defisit neraca jasa. 

Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2020 secara keseluruhan diprediksi terkontraksi yang terutama terjadi di negara-negara maju. Sebagian negara di Asia diprediksi tetap tumbuh positif. Pertumbuhan Indonesia diproyeksi melambat dalam rentang -0,4 hingga 2,3 persen dengan puncak perlambatan pada triwulan II tahun 2020. Perlambatan terjadi pada seluruh komponen pengeluaran terutama konsumsi rumah tangga. Sementara itu, kinerja ekspor dan impor diprediksi terkontraksi pada keseluruhan tahun ini.


Pada triwulan II


Sejalan dengan peningkatan kasus Covid-19, pertumbuhan ekonomi mayoritas negara di dunia mengalami kontraksi yang semakin dalam. Di sisi lain, perekonomian Tiongkok telah kembali tumbuh meskipun masih lambat. Harga komoditas internasional secara umum turun seiring dengan penurunan permintaan global. Harga minyak mentah dunia bahkan sempat diperdagangkan negatif pada bulan April 2020 akibat penuhnya kapal penyimpanan pasokan. Pembukaan lockdown kemudian mendorong harga komoditas naik secara bertahap.

Perekonomian Indonesia pada triwulan II tahun 2020 terkontraksi 5,32 persen (YoY). Dari sisi pengeluaran, kontraksi terjadi pada seluruh komponen. Pengeluaran pemerintah yang diharapkan menjadi penahan kontraksi justru procyclical. Sementara dari sisi lapangan usaha, sektor yang masih tumbuh positif adalah pertanian, infokom, pengadaan air, real estat, jasa kesehatan, pendidikan, dan jasa keuangan. Dari segi kewilayahan, hampir semua wilayah mengalami kontraksi. Kontraksi paling dalam terjadi di wilayah Jawa sebesar 6,7 persen (YoY). Sementara Maluku dan Papua masih tumbuh 2,4 persen (YoY).

Postur APBN kembali direvisi pada bulan Juni 2020 untuk mengakomodir kebutuhan belanja negara terkait penanganan situasi pandemi dan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Perpres 72/2020 tentang perubahan postur dan rincian APBN 2020 menjadi payung hukum untuk outlook peningkatan defisit APBN. Pendapatan negara turun menjadi Rp1.699,9 triliun sementara belanja negara naik menjadi Rp2.739,2 triliun. Hingga Juni 2020, penerimaan perpajakan mencapai 44,3 persen dari target, dengan hampir semua jenis pajak utama mengalami kontraksi terutama pada bulan Mei. Sementara belanja negara hingga Juni 2020 secara keseluruhan meningkat mencapai 33,8 persen dari APBN Perpres 72/2020. Bantuan sosial tumbuh 41,0 persen (YoY), terutama didorong oleh kebijakan penyaluran bansos untuk penanganan dampak Covid-19. Di sisi lain, Transfer Ke Daerah dan Dana Desa mengalami penurunan sebesar 0,9 persen (YoY). 

Sepanjang triwulan II tahun 2020, otoritas moneter menurunkan BI 7 Days Repo Rate (BI7DRR) menjadi 4,25 persen pada bulan Juni. Nilai tukar Rupiah cenderung menguat sepanjang triwulan berjalan seiring meredanya kepanikan di pasar keuangan global. Selain itu, penguatan Rupiah juga didorong oleh berlanjutnya aliran modal asing ke Indonesia. Inflasi pada triwulan ini cenderung lebih rendah meskipun ada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri, sejalan dengan rendahnya konsumsi masyarakat. Kekhawatiran masyarakat akan prospek ekonomi ke depan ditunjukkan oleh turunnya Indeks Keyakinan Konsumen.

Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan II tahun 2020 mengalami  surplus yang didorong oleh turunnya defisit transaksi berjalan, serta surplus transaksi modal dan finansial. Cadangan devisa pada triwulan ini meningkat menjadi USD131,7 miliar. Secara keseluruhan, indikator NPI masih menunjukkan sustainabilitas eksternal yang baik.

Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2020 diproyeksi terkontraksi cukup dalam dengan puncak penurunan diperkirakan terjadi pada triwulan II. Volume perdagangan turun seiring melemahnya permintaan global. Pertumbuhan negara maju secara keseluruhan diproyeksi terkontraksi hingga 8,0 persen. Sementara negara berkembang terkontraksi 3,0 persen. Harga komoditas pada tahun 2020 secara umum diproyeksi turun.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan lebih baik pada triwulan III dan IV tahun 2020 seiring relaksasi PSBB. Dari sisi pengeluaran, pemulihan ekonomi bergantung pada percepatan belanja pemerintah serta pemulihan ekonomi global. Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan dan perdagangan menjadi sektor yang paling berpengaruh pada pemulihan ekonomi. Sektor jasa informasi dan komunikasi serta jasa kesehatan diperkirakan tetap tumbuh menguat selama pandemi.


Pada triwulan III


Kondisi perekonomian global pada triwulan III tahun 2020 membaik, namun belum merata sejalan dengan perkembangan kasus Covid-19 di masing-masing negara. Perekonomian Amerika Serikat terkontraksi 2,9 persen (YoY), Korea Selatan terkontraksi 1,3 persen (YoY), sementara Jepang terkontraksi 5,8 persen (YoY). Di sisi lain, perekonomian Tiongkok telah kembali tumbuh sebesar 4,9 persen (YoY), meskipun masih lebih rendah dari tingkat sebelum pandemi. Harga komoditas internasional juga membaik dibandingkan triwulan sebelumnya walaupun masih rendah. Harga komoditas pertanian pada triwulan III tahun 2020 bahkan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

Perekonomian Indonesia pada triwulan III tahun 2020 terkontraksi 3,5 persen (YoY). Kondisi tersebut lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi hingga 5,3 persen (YoY). Perbaikan tersebut didorong oleh peningkatan pengeluaran pemerintah khususnya realisasi bantuan sosial untuk Program Pemulihan Ekonomi Nasional. Selain itu, juga terjadi perbaikan kinerja pada seluruh kelompok pengeluaran. Dari sisi sektoral, terdapat tujuh sektor yang tumbuh positif pada triwulan III tahun 2020, salah satunya sektor pertanian. Sementara aktivitas pariwisata yang masih tertekan menyebabkan kontraksi cukup dalam pada sektor transportasi dan sektor akomodasi. Kunjungan wisatawan mancanegara pada triwulan III sebanyak 475 ribu kunjungan, yang didominasi oleh wisatawan dari Timor Leste dan Malaysia. Pada triwulan berjalan, aktivitas pariwisata bergantung pada wisatawan domestik.

Realisasi Belanja K/L hingga September 2020 tumbuh 13,7 persen (YoY) yang didorong oleh peningkatan realisasi pada belanja barang dan bantuan sosial dalam rangka penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Realisasi Bantuan Sosial mencatat pertumbuhan sebesar 79,8 persen (YoY). Di sisi lain, realisasi pendapatan negara dan hibah mencapai 68,2 persen dari target APBN Perpres 72/2020. Secara keseluruhan, hingga akhir September 2020, defisit anggaran sekitar 4,2 persen terhadap PDB. Rasio utang pemerintah terhadap PDB sebesar 36,4 persen, yang digunakan untuk pembiayaan pemulihan ekonomi. Realisasi pembiayaan anggaran mencapai 75,5 persen dari pagu Perpres 72/2020.

Sepanjang Juli-September, Bank Indonesia menahan suku bunga kebijakan pada level 4,00 persen dalam rangka menjaga stabilitas nilai Rupiah dan mendorong pemulihan ekonomi. Sepanjang triwulan III Rupiah relatif stabil dengan penguatan 1,8 persen dari triwulan sebelumnya. Perkembangan inflasi pada triwulan III rendah dan berada di bawah batas minimal sasaran inflasi 2020. Sepanjang Juli-September terjadi deflasi sebesar 0,1 persen setiap bulannya.


Pada triwulan IV


Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2020 menunjukkan berlanjutnya proses perbaikan perekonomian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), meskipun mengalami kontraksi, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2020 sebesar -2,19% (yoy) membaik dari pertumbuhan triwulan III 2020 sebesar-3,49% (yoy). Tren perbaikan pada triwulan IV 2020 tersebut terjadi di hampir seluruh komponen permintaan dan lapangan usaha. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi 2,07% pada tahun 2020. Ke depan, pertumbuhan ekonomi domestik yang membaik hingga akhir 2020, diprakirakan meningkat secara bertahap pada 2021. Bank Indonesia mengarahkan bauran kebijakan akomodatif serta memperkuat sinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk terus mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Perbaikan ekonomi domestik triwulan IV 2020 ditopang realisasi stimulus dan kontribusi positif sektor eksternal. Konsumsi Pemerintah tumbuh positif pada 2020 sebesar 1,94% dipengaruhi oleh realisasi stimulus Pemerintah, terutama berupa bantuan sosial, belanja barang dan jasa lainnya, serta Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga membaik pada triwulan IV 2020, yakni tumbuh -3,61% (yoy) dari -4,05% (yoy) pada triwulan sebelumnya, seiring dengan perbaikan mobilitas masyarakat. Secara keseluruhan tahun, konsumsi rumah tangga terkontraksi sebesar 2.63%. Pertumbuhan investasi juga membaik pada triwulan IV 2020, dari -6,48% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi -6,15% (yoy), sehingga secara keseluruhan tahun mengalami kontraksi sebesar 4,95%. Sementara itu, net ekspor tercatat positif ditopang perbaikan kinerja ekspor sejalan dengan perbaikan kinerja perekonomian di beberapa negara tujuan ekspor di tengah masih terbatasnya kinerja impor.

Di sisi lapangan usaha (LU), sebagian besar lapangan usaha mengalami perbaikan pada triwulan IV 2020. LU yang terkait dengan kesehatan dan aktivitas work from home dan school from home tercatat tetap tumbuh positif dan melanjutkan perbaikan, seperti LU Informasi dan Komunikasi dan LU Jasa Kesehatan. LU Pertanian dan LU Pendidikan juga mencatatkan pertumbuhan positif. Sementara itu, LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan yang berkontribusi cukup besar pada perekonomian terus melanjutkan perbaikan, meski masih terkontraksi.

SEKIAN DAN TERIMAKASIH.... 

Jumat, 15 Oktober 2021

Sejarah Gereja GBI (GEREJA BETHEL INDONESIA)

Sejarah dan asal usul Gereja GBI (GEREJA BETHEL INDONESIA) 



 Gereja Bethel Indonesia, disingkat GBI, adalah salah satu sinode gereja di Indonesia yang bernaung di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Selain PGI, GBI juga merupakan anggota dari Dewan Pentakosta Indonesia (DPI) dan Persekutuan Injili Indonesia (PII).

Sejarah pendirian

Pada 6 Oktober 1970, di Sukabumi, Jawa Barat, Pdt. H.L. Senduk (yang juga dikenal sebagai Oom Ho) dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI). Gereja ini diakui oleh Pemerintah secara resmi melalui Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 41 tanggal 9 Desember 1972.


Pada tahun 1922, Pendeta W.H. Offiler dari Bethel Pentecostal Temple Inc., Seattle, Washington, Amerika Serikat, mengutus dua orang misionarisnya ke Indonesia, yaitu Pdt. Van Klaveren dan Groesbeek, orang Amerika keturunan Belanda.


Pada mulanya mereka memberitakan Injil di Bali, tetapi kemudian pindah ke Cepu, Jawa Tengah. Di sini mereka bertemu dengan F.G. Van Gessel, seorang Kristen Injili yang bekerja pada Perusahaan Minyak Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Van Gessel pada tahun sebelumnya telah bertobat dan menerima hidup baru dalam kebaktian Vrije Evangelisatie Bond yang dipimpin oleh Pdt. C.H. Hoekendijk (ayah dari Karel Hoekendjik).


Groosbeek kemudian menetap di Cepu dan mengadakan kebaktian bersama-sama dengan Van Gessel. Sementara itu, Van Klaveren pindah ke Lawang, Jawa Timur.


Januari 1923, Nyonya Van Gessel sebagai wanita yang pertama di Indonesia menerima Baptisan Roh Kudus dan demikian pula dengan suaminya beberapa bulan setelahnya.


Tanggal 30 Maret 1923, pada hari raya Jumat Agung, Groesbeek mengundang Pdt. J. Thiessen dan Weenink Van Loon dari Bandung dalam rangka pelayanan baptisan air pertama kalinya di Jemaat Cepu ini. Pada hari itu, lima belas jiwa baru dibaptiskan.


Dalam kebaktian-kebaktian berikutnya, bertambah-tambah lagi jemaat yang menerima Baptisan Roh Kudus, banyak orang sakit mengalami kesembuhan secara mujizat. Karunia-karunia Roh Kudus dinyatakan dengan ajaib di tengah-tengah jemaat itu.


Inilah permulaan dari gerakan Pentakosta di Indonesia. Berempat, Van Klaveren, Groesbeek, Van Gessel, dan Pdt. J. Thiessen, berempat merupakan pionir dari “Gerakan Pentakosta” di Indonesia.


Kemudian Groesbeek pindah ke Surabaya, dan Van Gessel telah menjadi Evangelis yang meneruskan memimpin Jemaat Cepu.


April 1926, Groesbeek dan Van Klaveren berpindah lagi ke Batavia (Jakarta). Sementara Van Gessel meletakkan jabatannya sebagai Pegawai Tinggi di BPM dan pindah ke Surabaya untuk memimpin Jemaat Surabaya.


Jemaat yang dipimpin Van Gessel itu bertumbuh dan berkembang pesat dengan membuka cabang-cabang di mana-mana, sehingga mendapat pengakuan Pemerintah Hindia Belanda dengan nama “De Pinksterkerk in Indonesia” (sekarang Gereja Pantekosta di Indonesia).


Pada 1932, Jemaat di Surabaya ini membangun gedung Gereja dengan kapasitas 1.000 tempat duduk (gereja yang terbesar di Surabaya pada waktu itu).


Tahun 1935, Van Gessel mulai meluaskan pelajaran Alkitab yang disebutnya “Studi Tabernakel”.
Gereja Bethel Pentecostal Temple, Seattle, kemudian mengurus beberapa misionaris lagi. Satu di antaranya yaitu, W.W. Patterson membuka Sekolah Akitab di Surabaya (NIBI: Netherlands Indies Bible Institute). Sesudah Perang Dunia II, para misionaris itu membuka Sekolah Alkitab di berbagai tempat.


Sesudah pecah perang, maka pimpinan gereja harus diserahkan kepada orang Indonesia. H.N. Rungkat terpilih sebagai ketua Gereja Pentakosta di Indonesia untuk menggantikan Van Gessel.
Jemaat gereja yang seharusnya menjaga jarak dari sikap politik yang terpecah belah terjebak dalam nasionalisme yang tengah berkobar-kobar pada saat itu. Akibatnya roh nasionalisme meliputi suasana kebaktian dalam gereja-gereja Pentakosta. Van Gessel menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bertindak sebagai pemimpin.


Kondisi rohani Gereja Pentakosta di saat itu menyebabkan ketidakpuasan di sebagian kalangan pendeta-pendeta Gereja tersebut. Ketidakpuasan ini juga ditambah lagi dengan kekuasaan otoriter dari Pengurus Pusat Gereja.


Akibatnya, sekelompok pendeta yang terdiri dari 22 orang, memisahkan diri dari Organisasi Gereja Pentakosta, di antaranya adalah Pdt. H.L. Senduk.
Pada tanggal 21 Januari 1952, di kota Surabaya, mereka kemudian membentuk suatu organisasi gereja baru yang bernama Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS).


Van Gessel dipilih menjadi “Pemimpin Rohani” dan H.L Senduk ditunjuk menjadi “Pemimpin Organisasi” (Ketua Badan Penghubung). Senduk berperan sebagai Pendeta dari jemaatnya di Jakarta, sedangkan Van Gessel memimpin jemaatnya di Jakarta dan Surabaya.
Pada tahun 1954, Van Gessel meninggalkan Indonesia dan pindah ke Irian Jaya (waktu itu di bawah Pemerintahan Belanda). Jemaat Surabaya diserahkannya kepada menantunya, Pdt. C. Totays.
Di Hollandia (sekarang Jayapura). Van Gessel membentuk suatu organisasi baru yang bernama Bethel Pinkesterkerk (sekarang Bethel Pentakosta). Van Gessel kemudian meninggal dunia pada tahun 1957 dan kepemimpinan Jemaat Bethel Pinkesterkerk diteruskan oleh Pdt. C. Totays.


Tahun 1962, sesudah Irian Jaya diserahkan kembali kepada Pemerintah Indonesia, maka semua warga negara Kerajaan Belanda harus kembali ke negerinya. Jemaat berbahasa Belanda di Hollandia ditutup, tetapi jemaat-jemaat berbahasa Indonesia berjalan terus di bawah pimpinan Pendeta-pendeta Indonesia.


Roda sejarah berputar terus, dan GBIS di bawah pimpinan H.L. Senduk berkembang dengan pesat. Bermacam-macam kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi organisasi ini. Namun semakin besarnya organisasi, begitu banyak kepentingan yang harus diakomodasi.


Pada 1968-1969, kepemimpinan Senduk di GBIS diambil alih oleh pihak-pihak lain yang disokong suatu keputusan Menteri Agama. Senduk dan pendukungnya memisahkan diri dari organisasi GBIS.


6 Oktober 1970, H.L. Senduk dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi Gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan diakui pemerintah secara sah pada tahun 1972 sebagai suatu Kerkgenootschap yang berhak hidup dan berkembang di bumi Indonesia.


Pdt H.L. Senduk melayani GBI Jemaat Petamburan dibantu oleh istrinya Pdt Helen Theska Senduk, Pdt Thio Tjong Koan, dan Pdt Harun Sutanto. Pada tahun 1972, Pdt H.L. Senduk memanggil anak rohaninya, Pdt S.J. Mesach dan Pdt Olly Mesach untuk membantu pelayanan di GBI Jemaat Petamburan. Saat itu, Pdt S.J. Mesach telah menjadi Gembala Sidang GBI Jemaat Sukabumi, yang telah dilayaninya sejak tahun 1963.


Pdt HL Senduk berpulang ke Rumah Bapa pada tanggal 26 Februari 2008, setelah lebih dahulu ditinggal istrinya tercinta. Ia meninggalkan visi 10000 gereja GBI bagi generasi berikutnya.
Pengakuan Iman

Pengakuan Iman Gereja Bethel Indonesia
Aku percaya bahwa:
Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Firman Allah yang diilhamkan oleh Roh Kudus.
Allah yang Maha Esa itulah Allah Tritunggal yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus, tiga Pribadi di dalam satu.
Yesus Kristus adalah anak Allah yang tunggal dilahirkan oleh perawan Maria yang dinaungi oleh Roh Kudus, bahwa Yesus telah disalibkan, mati, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga dari antara orang mati, bahwa Ia telah naik ke Surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa sebagai Tuhan, Juruselamat dan Pengatara kita.
Semua manusia sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah sehingga harus bertobat dan berpaling kepada Allah untuk menerima pengampunan dosa.


Pembenaran dan kelahiran baru terjadi karena iman di dalam darah Yesus Kristus yang dikerjakan oleh Roh Kudus.


Setiap orang yang bertobat harus dibaptis secara selam dalam Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, yaitu dalam nama Tuhan Yesus Kristus.


Penyucian hidup adalah buah kelahiran baru karena percaya dalam darah Yesus Kristus yang dikerjakan oleh kuasa Firman Allah dan Roh Kudus, karena itu kesucian adalah asas dan prinsip hidup umat Kristen.


Baptisan Roh Kudus adalah karunia Tuhan untuk semua orang yang telah disucikan hatinya; tanda awal baptisan Roh Kudus adalah berkata-kata dengan bahasa roh sebagaimana diilhamkan oleh Roh Kudus.


yang kedua dan menerima hukuman selama-lamanya.
Badan Pekerja Sinode

Kegiatan sehari-hari Sinode dipimpin oleh “Badan Pekerja Harian” (BPH) yang terdiri atas Ketua Umum dan beberapa ketua, Sekretaris Umum dan beberapa sekretaris, Bendahara Umum dan beberapa bendahara, serta Ketua-Ketua Departemen.


Ketua Umum Sinode GBI untuk periode kerja 2004-2012 adalah Pdt. DR. Jacob Nahuway, MA. Sekretaris Umum dijabat oleh Pdt. H. Ferry Haurissa Kakiay, STh., dan Bendahara Umum dijabat oleh Pdt. Arjiwanto Tjokro.


Departemen-departemen yang membantu dalam BPH adalah Departemen Theologia, Departemen Pendidikan, Departemen Wanita, Departemen Pemuda dan Anak, Departemen Media dan Litbang, Departemen Pekabaran Injil, Departemen Misi, Departemen Pelayanan Masyarakat, Departemen Hukum dan Advokasi, Departemen Gereja dan Masyarakat, Departemen Usaha dan Dana, dan Departemen Hubungan Luar Negeri.
Sekolah Teologi

Untuk melengkapi pemahaman akan Firman Tuhan, maka Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI mempunyai Lembaga Pendidikan Theologi yang berada di Jakarta dengan nama Seminari Bethel. Seminari Bethel Jakarta terletak di Jl. Petamburan IV/5 Tanah Abang, Jakarta Pusat 10260, Indonesia. Seminari Bethel Jakarta menaungi beberapa unit pendidikan, yaitu: 1. Sekolah Penginjil (SP). Program Sertifikat, dengan lama studi 1 tahun) 2. Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK). Pendidikan yang setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). SMTK telah mendapatkan status akreditasi dengan predikat A-Unggul dari Departemen Agama. 3. Institut Theologia dan Keguruan Indonesia (ITKI). ITKI menyelenggarakan beberapa program pendidikan dari Strata 1 (S1) sampai Strata 3 (S3). Program S1 menyelenggarakan program studi: Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Misi. Program S2 menyelenggarakan program: Master of Arts in Church Ministry (MACM) dan Magister Theologi (M.Th) dengan program studi: Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Pastoral Konseling. Program S3 menyelenggarakan program studi: Doctor of Ministry (D.Min) dengan program studi: Teologi, Pendidikan Agama Kristen, dan Konseling Pastoral.
Sinode Baru

Seperti GBI yang merupakan sinode yang lahir dari tubuh Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) dan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), maka dari tubuh Sinode GBI juga lahir beberapa sinode-sinode baru yang memisahkan diri, di antaranya:
Gereja Bethany Indonesia
Gereja Mawar Sharon
Gereja Tiberias Indonesia
Gereja Berita Injil. 

Jumat, 01 Oktober 2021

Sekilas tentang saya

 Halo nama saya Novry Yehezkiel Kawengian. Saat ini saya sedang kuliah di ITBI KAMPUS MILENIAL MEDAN. Saat ini saya sedang kuliah sambil bekerja dan saya saya ingin sekali menamatkan kuliah di ITBI ini dengan nilai yang bagus saya harap teman2 dan saya bisa sukses bersama-sama di ITBI. 

Perekonomian Indonesia di tahun 2020

Pertumbuhan perekonomian Indonesia tahun 2020 | Triwulan l - lV Pada triwulan I Pada triwulan I tahun 2020 dunia diguncang pandemi COVID-19 ...